bugalll

bugalll

Rabu, 23 Oktober 2013

Ciri-Ciri Wanita Nakal yang tidak layak dijadikan istri

1. Keluyuran gak jelas kalau malam, untuk apa coba, kan malu dilihat orang lain.

2. Gak mau diajak susah, ga'mau kita ajak jalan naek angkutan umum mau taksi kek, bus, metro mini, getek, bajaj, bemo, eleng-eleng dan semacamnya Maunya naek mobil sekalinya mau naek motor, minimal harus CBR Terus kalo jalan harus ke mall-mall besar, giman coba kalo calon kita seperti itu.

3. Selalu update dengan barang2 mewah, gimana coba kita nurutinnya, setiap ada barang baru minta dibelikan, gak cukup satu 2 sampai 3 barang baru pun ingin sekaligus dipakai, gadget yang selalu terbaru, gaya hidup yang cenderung mewah2an, kalo ngumpulnya di café atau di mall2, gimana gak ngavisin duit coba kalo ini dijadikan istri.

4. Royal banget, makan kudu makanan mahal, belanja sekali jalan pulangnya bawa 5 karung Nah tipe kaya gini ga pantes buat dijadiin bini, senang gak dapet malah kita nanti bakal mati akibat gak tahan hehe.
5. Kebanyakan temen cowok, nongkrong ama temen cowok, gak bisa jaga jarak kepada bukan muhrim, mabok lah ngobatlah, akibat pergaulan yang sembarangan, masih mau calon istri kayak gini?

6. Gak mau keluar uang sedikitpun, yaelah masak nuntut kita ada uang terus, iya kalau pas ada, kalau pas nggak ada?? Masak gak mau kalau namanya pacaran atau suami istri kan harus saling membantu ya??

7. Suka cabut dari rumah karena masalah ama ortu atau apalah, intinya dia cari tempat buat nginep Ga kenal waktu mau malem mau pagi pasti doi nelfon/sms kita buat minta tempat bakal tidur doi hari itu juga gara-gara lagi cabut. Nah kalo tidurnya 1 kasur sama kita gimane tuh Biasanya kalo cewe yang bener ga bakal cabut dari rumah apalagi nanya nya ke cowok.

8. Selalu minta jemput, gak pernah mau pergi sendiri, iya kalau selalu bisa, kalau kita ada kesibukan yang lebih penting dari dia??

9. Suka ngajakin k tempat dugem, tempat2 yang manfaatnya kurang, lalu minum2an dan semacamnya, cewek yang baik bukan cewek yang nongkrongnya ditempat seperti itu, mereka hanyalah kesenangan sesaat tanpa memikirkan masa depan, anak serta cucu mereka kelak.

10. Suka nawarin nginep dirumahnya, ntah dengan alasan yang kurang jelas, ( otak2 mesum tidak hanya pada lelaki saja, tidak sedikit cewek yang kelakuannya demikian, berbagai motif dan tujuan yang menjadi targetnya).
Hendaknya kita harus pintar2 memilih dan memilah wanita2 terbaik untuk kita, untuk masa depan kita.

Kamis, 18 Agustus 2011

Prifil Kab.Lampung Barat

Sejarah Lampung Barat

Kabupaten Lampug Barat adalah salah satu pemekaran dari Lampung utara, yag ber Ibukota di Liwa. Pemilihan Liwa sebagai ibu kota Kabupaten Lampung Barat memang tepat. Beberapa alasan memperkuat pernyataan ini adalah :
  1. tempatnya strategis karena berada di tengah-tengah wilayah Lampung Barat, sehingga untuk melakukan pengawasan terhadap seluruh daerah Lampung Barat oleh pemerintah kabupaten akan relatif efektif
  2. Liwa merupakan persimpangan lalu lintas jalan darat dari berbagai arah yaitu Sumatra Selatan, Bengkulu, dan Lampung sendiri Tentang asal-usul nama Liwa, menurut cerita orang, berasal dari kata-kata "meli iwa" (bahasa Lampung), artinya membeli ikan. Konon dahulunya Liwa merupakan daerah yang subur, persawahan yang luas, sehingga hasil pertaniannya melimpah. Liwa juga nama salah satu marga dari 84 marga di Lampung.

Skala Beghak, Asal Muasal.
Sekala Beghak (biasa ditulis Skala Brak), adalah kawasan yang sampai kini dapat disaksikan warisan peradabannya. Kawasan ini boleh dibilang kawasan yang “sudah hidup” sejak masa pra-sejarah. Batu-batu menhir mensitus dan tersebar di sejumlah titik di Lampung Barat. Bukti, ada tanda kehidupan menyejarah.

Sebuah batu prasasti di Bunuk Tenuar, Liwa berangka tahun 966 Saka atau tahun 1074 Masehi, menunjukkan ada jejak Hindu di kawasan tersebut. Bahkan di tengah rimba ditemukan bekas parit dan jalan Zaman Hindu. Ada lagi disebut-sebut bahwa Kenali yang dikenal sekarang sebagai ibukota Kecamatan Belunguh, adalah bekas kerajaan bernama “Kendali” dengan “Raja Sapalananlinda” sebagaimana disebut dalam “Kitab Tiongkok Kuno”. Kata “Sapalananlinda” oleh L.C. Westenenk ditafsir sebagai berasal dari kata “Sribaginda” dalam pengucapan dan telinga orang Cina. Jadi bukan nama orang tapi gelar penyebutan. Buku itu konon juga menyebut, bahwa Kendali itu berada di antara Jawa dan Siam-Kamboja. Kitab itu, menyebut angka tahun antara 454 – 464 Masehi. Kitab ini telah disalin ke dalam bahasa Inggris oleh Groenevelt (Wikipedia Indonesi, 2007).
Meski belum seluruhnya terbaca, namun dapat disimpulkan: di situ tercatat suatu peradaban panjang. Suatu kawasan tua yang mencatatkan diri dalam sejarah umat manusia. Di wilayah ini pula pernah berdiri sebuah kerajaan. Ada yang menyebut kerajaan tersebut adalah Kerajaan Tulang Bawang, namun bukti-bukti keberadaannya sulit ditemukan. Sedang keyakinan yang terus hidup dan dipertahankan masyarakat khususnya di Lampung Barat serta keturunan mereka yang tersebar hingga seluruh wilayah Sumatera Selatan, menyebutkan Kerajaan Skala Beghak. Pendapat ini juga disokong oleh keberadaan para raja yang bergelar Sai Batin, hingga bukti-bukti bangunan dan alat-alat kebesaran kerajaan, upacara dan seni tradisi yang masih terjaga. Masih banyak bukti lain, namun perlu pembahasan terpisah.

Kalau membaca peta Propinsi Lampung sekarang, kisaran lokasi pusat Sekala Beghak berada di hampir seluruh wilayah Kabupaten Lampung Barat, sebagian Kecamatan Banding Agung Kabupaten Ogan Komering Ulu, Propinsi Sumatera Selatan. “Pusat kerajaan” meliputi daerah pegunungan di lereng Gunung Pesagi di daerah Liwa, seputar Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau dan Kecamatan Balik Bukit.
Sebagai kesatuan politik Kerajaan Sekala Beghak telah berakhir. Tetapi, sebagai kesatuan budaya (cultural based) keber¬adaannya turun temurun tewarisi melalui sejarah panjang yang menggurat kuat dan terbaca makna-maknanya hingga saat ini. Sekala Beghak dalam gelaran peta Tanah Lampung, pastilah tertoreh warna tegas, termasuk sebaran pengaruh kebudayaannya sampai saat ini.
Tata kehidupan berbasis adat tradisi Sekala Beghak juga masih dipertahankan dan dikembangkan. Terutama, Sekala Beghak setelah dalam pengaruh “Empat Umpu” penyebar agama Islam dan lahirnya masyarakat adat Sai Batin. Adat dan tradisi terus diacu dalam tata hidup keseharian masyarakat pendukungnya dan dapat menjadi salah satu sumber inspirasi dan motivasi pengembangan nilai budaya bangsa.
Hasil pembacaan atas segala yang ada dalam masyarakat berkebudayaan Sai Batin di Lampung, memperlihatkan kedudukan dan posisi penting Sekala Beghak sebagai satuan peradaban yang lengkap dan terwariskan. Keberadaan Sekala Beghak tampak sangat benderang dalam peta kebudayaan Sai Batin, sebagai satu tiang sangga utama pembangun masyarakat Lampung. Bahkan, telah diakui, Sekala Beghak sebagai cikal bakal atau asal muasal tertua leluhur “orang Lampung”. Bahkan keberadaan Skala Beghak, berada dalam kisaran waktu strategis perubahan peradaban besar di Nusantara, dari Hindu ke Islam.

Bukti kemashuran Sekala Beghak dirunut melalui penuturan lisan turun-temurun dalam wewarah, tambo, dan dalung yang mempertegas keberadaan Lampung dalam peta peradaban dan kebudayaan Nusantara. Kata Lampung itu sendiri banyak yang menyebut berasal dari kata “anjak lampung” atau “yang berasal dari ketinggian”. Pernyataan itu menunjukkan bahwa “orang Lampung” berasal dari lereng gunung (tempat yang tinggi), yang dalam hal ini Gunung Pesagi. Pendapat yang sama juga ditemukan dalam kronik perjalanan I Tsing. Disebutkan kisah pengelana dari Tiongkok, I Tsing (635-713). Seorang bhiksu yang berkelana dari Tiongkok (masa Dinasti Tang) ke India, dan kembali lagi ke Tiongkok. Ia tinggal di Kuil Xi Ming dan beberapa waktu pernah tingal di Chang’an. Ia menerjemahkan kitab agama Budha berbahasa Sanskerta ke dalam bahasa Cina. Dalam perjalanannya itu, kronik menulis I Tsing singgah di Sriwijaya pada tahun 671. Ia mengunjungi pusat-pusat studi agama Budha di Sumatera, di antaranya selama dua bulan di Jambi dan setelah itu konon tinggal selama 10 tahun di Sriwijaya (685-695). Dalam perjalanannya itu, I Tsing dikabarkan menyebut nama suatu tempat dengan “To Lang Pohwang”. Kata “To Lang Pohwang” merupakan bahasa Hokian, bahasa yang digunakan I Tsing.
Ada yang menerjemahkan “To Lang Pohwang” sebagai Tulang Bawang. Salah satunya adalah Prof. Hilman Hadikusuma, ahli hukum adat dan budayawan Lampung tersebut memberi uraian perihal sejarah Lampung, khususnya dalam menafsir To Lang Pohwang sebagai Kerajaan Tulang Bawang. Disebut-sebut berada di sekitar Menggala, ibukota Kabupaten Tulang Bawang saat ini. Meski bekas-bekas atau artefaknya belum terlacak, garis silsilah raja dan istana, komunitas masyarakat pewaris tradisi, dan banyak hal lagi yang masih tidak bisa ditemukan. Tidak hanya dari sudut pandang semantis untuk memaknai kata “To Lang Pohwang”, namun perlu pula didampingi kajian sosiologis dan arkeologis yang lebih mendalam.
Kata “To Lang Pohwang” berasal dari bahasa Hokian yang bermakna ‘orang atas’. Orang atas banyak diartikan, orang-orang yang berada atau tinggal di atas (lereng pegunungan, tempat yang tinggi). Dengan demikian penyebutan I Tsing “To Lang Pohwang” memiliki kesamaan makna dengan kata “anjak lampung”, sama-sama berarti orang yang berada atau tinggal di atas. Sedang atas yang dimaksud adalah Gunung Pesagi.

Merujuk pada dua pendapat itu, maka penunjukan “orang atas” mengarah pada Suku Tumi yang tinggal di lereng Gunung Pesagi di Lampung Barat. Mereka inilah cikal-bakal Kerajaan Sekala Beghak. Kerajaan ini di kemudian hari ditundukkan oleh para penakluk, mujahid dan pendakwah Islam yang masuk ke Sekala Beghak dari Samudera Pasai melalui Pagaruyung Sumatera Barat. Di bawah Ratu Mumelar Paksi bersama putranya Ratu Ngegalang Paksi, disertai juga para Umpu, empat cucu Ratu Mumelar Paski. Mereka masuk untuk kemudian menguasai kawasan tersebut setelah menundukkan Suku Tumi. Para Umpu, keempat putra Ratu Ngegalang Paksi itulah yang kemudian melahirkan Paksi Pak Sekala Beghak dengan segala kebudayaannya, berkembang dan beranak pinak untuk kemudian menyebar ke seluruh Lampung dan sejumlah daerah. Karena kerajaan Sekala Beghak lama (animisme/dinamisme) telah dikalahkan dan dikuasai sepenuhnya oleh keempat Umpu keturunan Ratu Ngegalang Paksi, maka kemudian adat-istiadat dan kebudayaan yang berkembang dan dipertahankan hingga kini merupakan peninggalan Kerajaan Sekala Beghak Islam.
Dalam tambo-tambo dan wewarah, “Empat Umpu” (Umpu Bejalan Diway; Umpu Belunguh; Umpu Nyekhupa, dan Umpu Pernong) banyak disebut memiliki peran sentral dalam membangun masyarakat adat Sai Batin, Paksi Pak Sekala Beghak. Pada periode selanjutnya, penyebaran orang-orang Sekala Beghak ini dapat dirunut dari kisah-kisah tentang kepergian mereka melalui sungai-sungai. Bahkan, sebagian orang-orang Komering pun mengaku sebagai keturunan Sekala Beghak. Mereka diperkirakan keturunan Pasukan Margasana yang dikirim Kerajaan Sekala Beghak ke Komering untuk menghadang serangan sisa-sia prajurit Kerajaan Sriwijaya yang telah runtuh sebelumnya. Seperti halnya keberadaan Suku Ranau sekarang, diakui juga berasal dari Sekala Beghak, Lampung Barat. Di sekitar Danau Ranau di Banding Agung, Ogan Komering Ulu itu semula dihuni Suku Abung yang setelah kedatangan orang-orang Sekala Beghak pada abad ke-15 mereka pindah ke Lampung Tengah.

Seperti dikutip Harian KOMPAS, (11 Desember 2006:36), pada abad 15 datang empat kelompok masyarakat yang menduduki sekitar Danau Ranau. Di sebelah barat danau dihuni orang-orang yang datang dari Pagaruyung Sumatera Barat dipimpin Dipati Alam Padang. Sementara itu, tiga kelompok lainnya berasal dari Sekala Beghak. Tiga kelompok orang-orang Sekala Beghak itu dipimpin Raja Singa Jukhu (dari Kepaksian Bejalan Diway), menempati sisi timur danau. Di sisi timur danau pula, kelompok yang dipimpin Pangeran Liang Batu dan Pahlawan Sawangan (berasal dari Kepaksian Nyekhupa) menempat. Sementara kelompok yang dipimpin Umpu Sijadi Helau menempati sisi utara danau. Empu Sijadi Helau yang disebut-sebut itu bukan Umpu Jadi putra Ratu Buay Pernong, yang menjadi pewaris tahta Buay Pernong. Kemungkinan besar Umpu Sijadi di daerah Ranau tersebut adalah keturunan Kepaksian Pernong yang meninggalkan Kepaksian dan mendirikan negeri baru di Tenumbang kemudian menjadi Marga Tenumbang.
Ketiga kelompok dari Sekala Beghak ini kemudian berbaur dan menempati kawasan Banding Agung, Pematang Ribu, dan Warkuk. Sampai sekarang banyak orang Banding Agung mengaku keturunan Paksi Pak Sekala Beghak. Di samping itu, ada kisah-kisah perpindahan orang Sekala Beghak, sebagaimana ditulis dalam Wikipedia (7/3/07: 04.02), yang dipimpin Pangeran Tongkok Podang, Puyan Rakian, Puyang Nayan Sakti, Puyang Naga Berisang, Ratu Pikulun Siba, Adipati Raja Ngandum dan sebagainya. Bahkan, daerah Cikoneng di Banten ada daerah yang diberikan kepada Umpu Junjungan Sakti dari Kepaksian Belunguh atas jasa-jasanya, dan banyak orang Sekala Beghak yang migrasi ke sana atau sebaliknya.
Kisah-kisah ini memperkuat suatu kenyataan bahwa Sekala Beghak tidak hanya sebagai sumber muasal secara geografis, melainkan juga sumber kultur masyarakat. Sekala Beghak adalah hulu suatu kebudayaan masyarakat. Dari Sekala Beghak ini juga lahir huruf Lampung yaitu Kaganga. Bagi sebuah kebudayaan, memiliki bahasa dan aksara sendiri merupakan bukti kebesaran masa lalu kebudayaan tersebut. Di Indonesia hanya sedikit kebudayaan yang memiliki aksara sendiri, yaitu Batak, Lampung (Sumatera Selatan), Jawa, Sunda, Bali, dan Bugis. Dan kebudayaan yang memiliki aksara sendiri dapat dikategorikan sebagai kebudayaan unggul. Karena bahasa merupakan alat komunikasi sekaligus simbol kemajuan peradaban.

Semua aksara Nusantara tersebut berasal dari bahasa Palava, yang berinduk pada bahasa Brahmi di India. Bahasa Palava digunakan di India dan Asia Tenggara. Di Nusantara bahasa ini mengalami penyebaran dan pengembangan, bermula dari bahasa Kawi, sebagai induk bahasa Nusantara. Dari bahasa Kawi menjadi bahasa : Jawa (Hanacaraka), Bali, Surat Batak, Lampung/Sumatera Selatan (Kaganga), dan Bugis.
Dari Kerajaan Sekala Beghak yang telah memiliki unsur-unsur “kebudayaan lengkap” ini pulalah “ideologi” Sai Batin dilahirkan dan disebarluaskan. Sampai saat ini, masih banyak yang bisa dibaca dari jejak-jejak yang tertinggal. Baik dari jejak fisik maupun jejak yang tidak kasat mata. Dari legenda, seni budaya, adat tata cara, bahasa lisan tulisan, artefak benda peninggalan, hingga falsafah hidup masih ada runut rujukannya. Dari Sekala Beghak itu di kemudian hari pengaruh budaya dan peradabannya berkembang dan berpengaruh luas ke seluruh Lampung bahkan sampai ke Komering di Sumatera Selatan sekarang. Tidak terhitung kemudian “pendukung budaya”-nya yang tersebar di seluruh Indonesia pada masa kini.


Kehidupan Masyarakat


Kondisi sosial budaya Lampung Barat ditandai dengan adat istiadat pesisir yang masih terpelihara hingga saat ini. Lampung Barat dikenal dengan sebutan Tanah Sai Betik atau tanah yang indah dengan tata kehidupan masyarakat dengan sistem Patrilinial, dimana harta pusaka, Gelar dan nama Suku diturunkan menurut garis Ayah/Bapak. Suku bangsa asli yang mendiami wilayah Kabupaten Lampung Barat berasal dari bekas Kerajaan Skala Brak yang banyak mendapat pengaruh Sumatera Barat. Masyarakat Kabupaten Lampung Barat tergabung dalam 6 (enam) Kebuayan, yaitu:
1. Buay Belunguh (Kenali)
2. Buay Pernong (Batu Brak)
3. Buay Bejalan Di Way (Kembahang)
4. Buay Nyerupa (Sukau)
5. Buay Bulan/Nerima (Lenggiring)
6. Buay Menyata/Anak Mentuha (Luas)

Dari enam kebuayan tersebut di atas, hanya empat yang menjadi Raja (Paksi Pak) yang secara bersama-sama memerintah kerajaan Skala Brak, dan dua Buay yang tidak memerintah yaitu Buay Menyata/Anak Mentuha dan Buay Bulan/Nerima. Buay Menyata merupakan penghuni terdahulu Kerajaan Skala Brak. Oleh karena itu, keempat Paksi mengangkatnya sebagai Anak Mentuha atau yang dihormati, sedangkan Buay Nerima merupakan Nakbar/Mirul (anak perempuan yang diambil orang).
Karena beberapa faktor, sebagian penduduk Skala Brak berpindah mencari daerah baru yang terbagi dalam dua arah yaitu melalui danau dan melalui pantai Pesisir. Penduduk yang mengambil jalan melalui Danau kebanyakan keturunan Paksi Pak, sedangkan penduduk yang melalui pesisir merupakan keturunan Buay Bulan/Nerima yang menyebar sepanjang pantai pesisir mulai dari Krui, Kota Agung, Teluk Betung, Kalianda sampai Labuhan Maringgai.
Pada tahun 1996, melalui survey yang dilakukan oleh para Budayawan, dapat diungkapkan bahwa di wilayah pesisir Kabupaten Lampung Barat terdapat 16 masyarakat hukum adat yang disebut Marga. Hasil survey ini kemudian dituangkan dalam SK Gubernur Lampung No. G/362/B.II/HK/1996. Wilayah marga-marga di wilayah Pesisir memiliki batas yang cukup jelas antara satu marga dengan marga lainnya. Secara rinci nama marga, pusat/lamban gedung dan lokasi kecamatan disajikan pada Tabel 2.15.
Masing-masing marga tersebut di atas dipimpin oleh seorang Saibatin (Kepala Marga). Pada zaman pendudukan Inggris, Belanda hingga Jepang, urusan administrasi dipegang oleh seorang Pesirah yang sebagian besar adalah Saibatin. Oleh karena itu, masyarakat Lampung Barat juga dikenal dengan masyarakat adat Saibatin (khususnya bagi keturunan Buai Paksi Pak) dengan tujuh tingkatan Gelar yaitu: Suntan, Raja, Batin, Radin, Minak, Kimas dan Mas.

Nama-nama Marga di Wilayah Pesisir di Kabupaten Lampung Barat
No. Marga Pusat/Lamban Gedung Kecamatan
1. Belimbing Bandar Dalam Bengkunat
2. Bengkunat Sukamarga Bengkunat
3. Ngaras Negeri Ratu Ngaras Bengkunat
4. Ngambur Negeri Ratu Ngambur Pesisir Selatan
5. Tenumbang Negeri Ratu Tenumbang Pesisir Selatan
6. Way Napal Way Napal Pesisir Tengah
7. Pasar Krui Krui Pesisir Tengah
8. Ulu Krui Gunung Kemala Pesisir Tengah
9. Pedada (Penggawa V Ilir) Pedada Pesisir Tengah
10. Bandar (Penggawa V Tengah) Bandar Pesisir Tengah
11. Laay (Penggawa V Ulu) Laay Karya Penggawa
12. Way Sindi Way Sindi Karya Penggawa
13. Pulau Pisang Pulau Pisang Pesisir Utara
14. Pugung Tampak Pugung Tampak Pesisir Utara
15. Pugung Penengahan Pugung Penengahan Lemong
16. Pugung Malaya Malaya Lemong
Sumber: SK Gubernur Lampung Nomor: G/362/B.II/HK/1996

Pada zaman Belanda, tanah adat diakui sebagai tanah marga dari 16 marga yang memiliki wewenang di sana. Batas Bochwessen (BW, kawasan hutan) dan tanah marga dihormati oleh Pemerintah Belanda maupun masya-rakat sekitarnya. Selain penduduk asli, di Kabupaten Lampung Barat, juga terdapat penduduk pendatang (Jawa, Bali, Semendo, dan lain-lain) yang hidup rukun berdampingan satu sama lain. Oleh karena itu, Lampung Barat mempunyai Motto “Beguai Jejama” yang artinya bekerja bersama bergotong royong tanpa memandang asal dan suku bangsa.

Iklim

Iklim disuatu tempat sangat ditentukan oleh beberapa factor, antara lain curah hujan, hari hujan, evaporasi, temperatur, transpirasi dan kecepatan angin. Hal tersebut erat kaitannya dengan keadaan topografi, vegetasi, maupun ketinggian suatu tempat.

Menurut Oldeman dan Las Devies, daerah Lampung Barat memiliki dua tipe iklim yaitu:
1. Tipe Iklim A : Terdapat disebelah Barat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
2. Tipe Iklim B : Terdapat disebelah Timur Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
Kelembaban udara di daerah ini tergolong basah (udic). Kelembaban berkisar antara 50 - 80% dengan curah hujan tahunan yang tinggi, yaitu >2000 mm. Regim suhu berkisar dari panas (isohypothermic) pada dataran pantai (di bagian barat) sampai dingin (isimesic) di daerah perbukitan.

Untuk mengetahui tinggi curah hujan ditiap kecamatan, maka tingkat curah hujan dibagi menjadi 3 (tiga) kriteria yaitu :
1. Curah Hujan antara 1500 s/d 2000 mm per tahun.
2. Curah Hujan antara 2000 s/d 2500 mm per tahun.
3. Curah Hujan antara 2500 s/d 3000 mm per tahun.

Geomorfologi

Formasi geologi yang menyusun wilayah Lampung Barat meliputi formasi alluvium, gamping koral, batuan gunung api kuartier, Batuan Gunung Api, Bintuhan, Ranau, Semung, Lemau, Hulusimpang, Bal, Batuan Terobosan, Lakitan, Simpang Aur dan Formasi Seblat. Untuk fisiografis wilayah Pesisir Kabupaten Lampung Barat didominasi oleh Teras Marin seluas 56.312 Ha (54,1 %), Aluvial seluas 21.862 Ha (21%) dan Marin seluas 12.500 Ha (12 %).
Sebagian besar tanah di Kabupaten Lampung barat didominasi oleh jenis Entisol, Enceptisol dan Ultisol. Daerah pesisir ditempati oleh endapan alluvial sungai dan pantai, endapan vulkanik dari beberapa formasi, dan batuan gamping.
Daerah ini berada pada ketinggian 0 - 50 mdpl. Daerah ini relatif sempit, memanjang sepanjang pantai. Daerah yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia ini, seperti umumnya pantai Barat Sumatera dan Pantai Selatan Jawa, dipengaruhi oleh gempa bawah laut yang dapat mengakibatkan gelombang stunami.
Daerah pegunungan yang merupakan punggung Bukit Barisan, ditempati oleh vulkanik quarter dari beberapa formasi. Daerah ini berada pada ketinggian 50 - > 1000 mdpl. Daerah ini dilalui oleh sesar Semangka, dengan lebar zona sebesar ± 20 Km. Pada beberapa tempat dijumpai beberapa aktifitas vulkanik dan pemunculan panas bumi.
Susunan batuan dan sifat-sifat fisiknya, struktur geologi, dan bentuk topografik yang membentuk daerah ini menyebabkan daerah ini cukup rentan terhadap berbagai jenis bencana alam, seperti gempa bumi, tanah longsor, dan erosi kuat.
Daerah bergelombang berada pada ketinggian 500 - 1000 mdpl, ditempati oleh endapan vulkanik quarter. Daerah ini relatif aman terhadap gempa, namun pada bagian yang berlereng terjal masih dijumpai longsor.

Berdasarkan kondisi fisik demikian, dalam kontek kerentaan terhadap bencana alam Wilayah Kabupaten Lampung Barat dapat dibagi menjadi 3 (tiga) zona utama yaitu :
a. Zona I, daerah pesisir, dengan ancaman bencana alam gempa bawah laut dan tsunami, namun relatif aman terhadap gerakan tanah (tanah longsor).
b. Zona II, daerah pegunungan, yang relatif paling rentan terhadap bencana : tanah longsor, erosi kuat, dan gempa bumi yang juga berperan memicu longsor.
c. Zona III, daerah bergelombang, relatif paling aman meskipun tingkat erodibilitas tanahnya kurang lebih sama dengan Zona II, dan pada beberapa tempat masih dikemungkinkan terkena longsor.

Tabel Keadaan Tanah di Kabupaten Lampung Barat
Sistem
Tanah
Ketinggian
(mdpl)
Terdapat
Bahan
Pembentuk
Alluvial
0 - 100
Sepanjang jalur Daerah Aliran Sungai Pesisir Selatan, Pss. Tengah dan Pss. Utara dan sebelah Selatan G. Sekincau (Suoh)
Endapan sungai dan hasil alluvial atau koliviasi
Marine
0 - 20
Daerah yang terkena pasut berlumpur, beting pantai, dan cekungan antar pantai
Dari bahan endapan laut yang tersusun halus sampai kasar
Teras Marine
0 - 20
Sepanjang pesisir pantai barat dengan variasi lereng 3-5 %
Tufa masam dan batuan sediment
Vulkan
25 - 200
Lereng pegunungan/ perbukitan dengan kelerengan curam (lebih dari 30 %)
Bahan induk andesitis dan basal
Perbukitan
5 - 1000
Lereng pegunungan vulkan
Bahan vulkan, sedimen, plutonik masam, batuan metamorf yang ditutupi oleh bahan tufa masam ranau
Pegunungan dan Plato
25 - 1350
Lereng pegunungan vulkan dengan kelerengan curam (lebih dari 30 %).
Bahan vulkan tersier, plutonik masam, metamorf dan tufa masam.
Sumber : BPN Lampung Barat.

Topologi

Ketinggian suatu tempat dari permukaan air laut sangat berpengaruh terhadap perubahan iklim. Semakin tinggi suatu tempat, maka semakin rendah temperaturnya. Ketinggian suatu tempat juga akan berpengaruh terhadap jenis dan ragam komoditi yang diusahakan.
Bentuk wilayah Kabupaten Lampung Barat bervariasi, mulai dari daerah datar di sebelah barat hingga daerah pegunungan di sebelah Timur .
Secara fisiografis daerah ini dapat dibedakan atas tiga bagian, yakni daerah pesisir di bagian barat dengan kemiringan 0 - 15%, daerah pegunungan yang merupakan daerah terbesar di bagian tengah dengan kemiringan 15 - lebih dari 40%, daerah bergelombang di bagian timur dengan kemiringan lahan 2 - 40%.
Berdasarkan ketinggian tempat untuk Kecamatan Balik Bukit, Belalau dan Sumberjaya sebagian besar wilayahnya mempunyai ketinggian antara 500-1000 mdpl. Sedangkan Kecamatan Pesisir Utara, Pesisir Tengah, dan Pesisir Selatan umumnya mempunyai ketinggian berkisar antara 0 - 500 mdpl.
Keadaan wilayah sepanjang Pantai Pesisir Barat umumnya datar sampai berombak dengan kemiringan berkisar antara 3% sampai dengan 5%.
Secara Topografi Kabupaten Lampung Barat dibagi menjadi 3 (tiga) jenis Topografi, yaitu :
  • Daerah Dataran Rendah
    yaitu daerah yang mempunyai ketinggian antara 0 - 600 meter dpl.
  • Daerah Berbukit
    yaitu daerah dengan ketinggian 600 - 1.000 meter dpl.
  • Daerah Pegunungan
    yaitu daerah dengan ketinggian 1.000 - 2.000 meter dpl.
PENGGUNAAN TANAH
Pengunaan tanah suatu daerah mencerminkan suatu aktifitas penduduk yang mendiami suatu kawasan tertentu sebagai akibat dari kegitan budidaya maupun yang terjadi melului proses alamiah.
Penggunaan tanah dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis yaitu :
  1. Pemukiman.
  2. Pekarangan.
  3. Sawah.
  4. Tegalan/Kebun.
  5. Perkebunan.
  6. Alang-alang dan Semak.
  7. Hutan.
  8. Rawa.
  9. Kolam
Penggunaan tanah di Kabupaten Lampung Barat masih bercorak agraris dengan prioritas pada tanaman perkebunan dan tegalan.
Secara umum penggunaan lahan di Kabupaten Lampung Barat dapat golongkan atas :
  • Sawah
    mayoritas terdapat di Kecamatan Sumber Jaya, Pesisir Selatan, Pesisir Tengah dan Pesisir Utara, Lemong, Bengkunat , dan Suoh.
  • Perkebunan
    mayoritas terdapat di Kecamatan Pesisir Selatan, Belalau, Balik Bukit dan Pesisir Utara, Way Tenong, Batu Brak, Sukau, Suoh.
  • Kebun, tegalan dan Ladang
    mayoritas terdapat di Kecamatan Pesisir Utara, Sumber Jaya, dan Belalau, Sukau, Balik Bukit.
Secara umum kawasan permukiman di Kabupaten Lampung Barat relatif tetap dan tidak terlihat adanya perubahan yang nyata. Akan tetapi, jika dilihat perkembangan perkecamatan, maka ada kecenderungan bahwa wilayah Kecamatan Sumber Jaya dan Pesisir Tengah berkembang lebih cepat. Hal ini menyebabkan terjadinya pergerakan penduduk (urbanisasi) dari kecamatan lain ke daerah ini, yang kemudian akan mendorong berkembangnya pusat-pusat permukiman di kedua kecamatan tersebut.
Berdasarkan data dari BPN Lampung Barat hingga tahun 2004 penggunaan lahan di Kabupaten Lampung Barat masih didominasi oleh hutan (52,53 %), menyusul kebun dan perkebunan (25,21 %), sedangkan untuk permukiman dan tegalan hanya 2,1 % dari keseluruhan luas wilayah Kabupaten Lampung Barat.
Tabel Penggunaan Lahan di Kabupaten Lampung Barat 2004
No
JENIS PENGGUNAAN
LUAS (Ha)

1
2
3
4
5
6
7

Pemukiman
Tegalan/Ladang
Perkebunan
Kebun Campuran
Alang-alang
Hutan/Semak
Perkebunan/Kebun rakyat

1.705
14.975
90.970
10.925
3.127
358.474
90.970
Sumber : BPS Propinsi Lampung, 2004

POTENSI
Panas Bumi

Kabupaten Lampung Barat memiliki potensi panas bumi yaitu :
Sekincau ( Welirang ) dan Suoh (Antatai ).
Diperkirakan potensi panas bumi Sekincau - Suoh menyimpan daya sebesar 430 MWatt Electrik
Dengan luas wilayah kerja pertambangan +165.100 Ha. Berjarak antara 25 - 30 km dari Ibukota Kabupaten Lampung Barat Liwa dan lebih kurang 160 km dari Bandar Lampung. setelah dilakukan survey pendahuluan oleh Pusat Sumberdaya Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, PT. Pertamina dan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat bekerjasama dengan LIPI - ITB dan PT. Medco Geothermal Indonesia, maka Menteri ESDM telah menetapkan Wilayah Kerja Pertambangan Panas Bumi di Daerah Sekincau - Suoh melalui SK Menteri ESDM No : 2478k/30/MEM/2009.


Mengingat potensi SDA Energi Panas Bumi yang ada di Kabupaten Lampung Barat ditambah lagi dengan tingginya kebutuhan energi serta minimnya anggaran yang dimiliki, Kabupaten Lampung Barat berusaha mencari dukungan dari pihak-pihak terkait untuk mewujudkan kebutuhan energi tersebut untuk mengatasi krisis energi listrik yang terjadi di propinsi Lampung dan Indonesia pada umumnya.


KEHUTANAN
Kehutanan

Kabupaten Lampung Barat memiliki luas 495.040 Ha, sebagian besar  wilayahnya merupakan kawasan hutan (±64% dari luas wilayah daratan kabupaten).  Kawasan hutan itu terdiri :

    * Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) 280.300 ha
    * Hutan Lindung  39.191 ha
    * Hutan Produksi Terbatas 33.358 ha

Adapun komoditas unggulan dari sektor kehutanan mencakup:

Damar
Komoditas yang menjadi unggulan  Kabupaten Lampung Barat hingga dikenal ke dunia Internasional adalah Damar Mata Kkucing (Shorea Javanica) dengan areal luas tanaman seluas 17.500 Ha dengan Produksi 5000 ton /tahun, dimana hampir 80%  damar mata kucing Indonesia berasal dari Lampung Barat, karena merupakan damar terbaik didunia dan digunakan sebagai stabilizer pada industri cat, tinta, pharmasi, kosmetik.
Hampir diseluruh wilayah pesisir Lampung Barat yakni di Kecamatan Lemong, Pesisir Utara, Karya Penggawa, Pesisir Tengah, Pesisir Selatan, Ngambur, Bengkunat dan Bengkunat Belimbing terdapat hutan damar.
Negara tujuan ekspor damar mata kucing meliputi : India, Jerman, Philipina, Perancis, Belgia, Uni Emirat Arab, Bangladesh, Pakistan dan Italia.

Kayu
Lampung Barat merupakan penghasil kayu Damar, Medang, Sengon, Cempaka, Afrika, Karet ,Jati, dll.selama tahun 2006 produksi kayu mencapai 16.585.17 m³
Tanaman Gaharu
Berdasarkan kondisi iklim dan topografi kabupaten Lampung Barat memiliki jenis-jenis tanaman yang bernilai ekonomis tinggi salah satunya adalah gaharu. Untuk meningkatkan beberapa usaha pengembangan pada tahun 2004, telah dibudidayakan tanaman Gaharu sebanyak 3000 batang. Pengembangan tanaman Gaharu ini berada di Pekon Pagar Bukit kecamatan Bengkunat.
Madu / Perlebahan
Hutan yang ada cukup berpotensi untuk pengembangan lebah madu, mengingat banyak tanaman yang menghasilkan bunga sebagai pakan lebah antara lain: kopi. Kaliandra da tanaman buah lainnya. Saat ini secara swadaya telah dikembangkan lebah madu lokal oleh masyarakat selingkut (reg 44B-Fajar Bulan). Dengan produksi rata-rata 3 kuintal madu/bulan.
Sutera Alam/Kokon
Kabupaten Lampung Barat adalah satu-satunya Kabupaten di propinsi Lampung yang mengembangkan Sutera Alam. Jenis tanaman  yang dikembangkan untuk pakan ulat  sutera adalah tanaman Murbei.

PERIKANAN DAN KELAUTAN

Kabupaten Lampung Barat mempunyai panjang garis pantai 210 Km, dengan luas laut 912,21 mil. Lampung Barat juga memiliki potensi perikanan air tawar dengan luas 13.602 ha. Terdiri dari danau, cekdam dan sungai, dan kolam. Perikanan air tawar berpotensi untuk menjadi usaha budidaya kolam air tenang/deras juga keramba jaring apung.
Potensi Perikanan Tangkap
Perikanan laut merupakan potensi yang sangat besar dan merupakan investasi yang sangat besar untuk Kabupaten Lampung Barat. Ikan hasil tangkapan dari laut mempunyai nilai ekonomis tinggi antara lain ikan layaran, ikan setuhuk (Blue Merlin), Cakalang dan Tuna. Terbukti hasil tangkapan selalu terserap habis oleh pasar lokal maupun luar daerah. Selain ikan hasil tangkapan juga terdapat Udang Karang ( Lobster) yang mampu menembus pasar ekspor dan memiliki pasar tujuan jelas. Produktivitas penangkapan ikan dilaut tahun 2007 mencapai 8.817,1 ton dengan wilayah tangkapan sepanjang pantai pesisir Lampung Barat.
Selain hasil tangkapan dilaut Kabupaten Lampung Barat juga mempunyai lahan yang sangat baik sebagai lahan budidaya ikan air tawar, dan potensi ini masih sangat mungkin dikembangkan mengingat daya dukungnya yang sangat baik antara lain : kesediaan air yang melimpah, sumber daya manusia yang cukup dan kecilnya tingkat pencemaran terhadap sumberdaya air. Besarnya produksi ikan air tawar di Lampung Barat mencapai 639,4 ton/tahun.
Untuk mendukung pengembangan budidaya ikan air tawar di Lampung Barat, Pemkab Lampung Barat telah membangun Balai Benih Ikan (BBI) di Kecamatan Sumber Jaya. Karena selama ini Sumber Jaya dikenal sebagai sentra ikan air tawar, hal ini di dukung oleh kegemaran masyarakatnya memelihara ikan.

Selain Sumber Jaya daerah lain yang berpotensi untuk pengembangan perikanan air tawar adalah, Kecamatan Sukau, Way tenong, Balik Bakit, Sekincau, Belalau, Batubrak dan Suoh dengan total luas mencapai 13.602 ha dan baru dimanfaatkan 3.373 ha atau 24,8%.
PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN

Kabupaten Lampung Barat merupakan salah satu DaerahTujuan Wisata (DWT) di Propinsi Lampung. Ini dapat dilihat daribanyaknya wisatawan mancanegara maupun nusantara yang datang berkunjunguntuk menikmati berbagai objek wisata di Lampung Barat. Objek wisata diLampung Barat sangat lengkap mulai dari laut, danau, pegunungan, wisataalam dan juga wisata petualangan.
Untuk pengembangan pariwisata di Lampung Barat, Pemerintah Kabupatenterus melakukan berbagai upaya seperti penyediaan sarana dan prasaranainfrastruktur.

Kawasan Wisata Terpadu Lumbok Ranau (Seminung Lumbok Resort)
Keindahan Danau Ranau di Pekon Lumbok Kecamatan Sukau memang luarbiasa, demikian diungkapkan berbagai kalangan yang pernah berkunjung keLumbok. Ditempat itu kita bisa menyaksikan hamparan biru danau denganlatar belakang gunung seminung yang menjulang tinggi dan perbukitanhijau. Wisatawan juga menikmati kehangatan air panas dikaki gunungseminung, berperahu,dan berpiknik bersama keluarga.Karena disini terdapat.

Untuk memanjakan wisatawan Pemerintah KabupatenLampung Barat telah membangun berbagai sarana seperti fasilitas 2Cottage dengan kolam renang, hotel standar bintang 3 dengan 16 kamar,Restoran dan Convention Hall dengan kapasitas 30 orang lantai dasar dan400 orang lantai atas.

 Wisata Paralayang
Selain menikmati keindahan alam danau, wisatawan yang hobi olahragaparalayang dapat melakukannya disini. Kegiatan dirgantara paralayangmerupakan bagian atraksi wisata. Dari ketinggian sekitar 400 meter,wisatawan dapat menikmati kontur alam yang begitu indah, danau ranauyang dilingkupi oleh pegunungan yang tegak menjulang salah satunyaGunung Seminung serta areal persawahan yang membentang luas sungguhpanorama alam yang menyejukkan hati.
Wisatawan melakukan take off di bukit Mandi Angin, Pekon Lumbok denganketinggian 400 meter dpl. Site paralayang di Lumbok Ranau secara teknissangat layak dan memiliki pemandangan alam yang lengkap.

Wisata Alam Pekon Hujung
Objek Wisata di Pekon Hujung Kecamatan Belalau, disini terdapat Gunung tertinggi di Lampung Barat yaitu Gunung Pesagi, dimana gunung inidijadikan sebagai wana wisata atau wisata alam. Wisatawan selainberpetualang melakukan pendakian dapat melihat keindahan alam dan bahari Lampung Barat dari ketinggian Gunung, disini juga terdapat Homestay tradisional Lampung Barat yang dilengkapi dengan fasilitas yang memadai.

Wisata alam kubu perahu
Lampung Barat memang tidak pernah habis. Satu lagi lokasi petualanganalam yang sangat menantang. Yakni wisata alam Kubu Perahu di KecamatanBalik Bukit. Di sini wisatawan dapat menikmati rimbunnya pohon-pohonbesar hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Lokasi inisangat cocok untuk kegiatan jungle run. Wisatawan dapat menikmatialiran sungai yang jernih disepanjang perjalanan menapaki hutan kawasanTNBBS. Selain itu wisatawan juga dapat menikmati air terjun Sepapa Kiriyang begitu jernih dan indah.

Desa Wisata Lumbok
 LampungBarat juga menyajikan wisata desa, dimana desa yang dikunjungi masihsangat alami dengan suguhan pemandangan Danau Ranau, di tempat ini parapengunjung dapat melakukan aktivitas yang cocok untuk keluargadiantaranya : Menombak ikan, memanah ikan, berenang, memancing belutdan aktivitas malam yang tak kalah serunya.
Didesa Lumbok yang berjarak + 30 km dari ibukota kabupaten LampungBarat Liwa, pengelola kawasan ini menyediakan homestay dirumahtradisional penduduk setempat dan menyajikan kuliner khas, seperti gulai taboh, dan ikan bakar

Danau Suoh.
Wisata alam ini menyajikan potensi wisata olahraga serta menjanjikanpengalaman yang tak terlupakan, perjalanan ke lokasi yang hanya dapatditempuh dengan menggunakan kendaraan jenis off Road dan kendaran rodadua jenis trail. Di sini terdapat 3 buah danau yang berubah-ubahwarnanya. Kawasan sekitar danau terdapat sumber panas bumi yangmenambah keunikan dan keistimewaan lokasi. Untuk menuju lokasi dapatmelalui Kecamatan Sekincau atau Kecamatan Batu Brak dengan jarak tempuh4 jam perjalan dari Ibukota Liwa. Juga dapat melalui Kecamatan WonosoboKabapaten Tanggamus.

Arung Jeram
Bagi anda yang gemar olah raga arung jeram (rafting), Lampung Baratmemiliki Sungai Way Besai. Di sungai yang terdapat di Kecamatan SumberJaya ini wisatawan dapat menikmati lintasan jeram dengan grade IIIdengan jarak tempuh 3 km menjanjikan aktifitas yang menantang bagi parapenggemar olahraga arung jeram.

Wisata Bahari
Objek Wisata Bahari terdapat di daerah pesisir Lampung Barat diantarnya :
Pantai Tanjung Setia
Terletak di Pesisir Selatan, 52 Km dari Liwa potensi daya tarik yangditawarkan adalah berselancar, berenang, menyelam, berperahu, berlayar,snorking, memancing, berjemur matahari,menyusuri pantai,mengumpulkankarang dan fotografi.
Pantai Labuhan Jukung
Pantai labuhan jukung yang berlokasi di pekon kampung Jawa kecamatan, 35 Km dari Liwa
Pesisir Selatan
Pantai Way Jambu
Terletak di Pesisir Selatan, 60 Km dari Liwa potensi daya tarik yang ditawarkan adalah berenang, menyelam, bersepeda,selancar angin,berkemah,dan berjemur matahari
Pantai Way Sindi
Pesisir Tengah, 34 Km dari Liwa
Pantai Suka Negara
Terletak di Bengkunat , 68 Km dari Liwa
Pantai Way Haru
Terletak di Bengkunat, 212 Km dari Liwa.

Objek wisata budaya dan sejarah
Objek Wisata budaya dan sejarah, adanya situs megalitik di PekonPurajaya, rumah tradisional di desa Sukadana, dan berbagai PetilasanPatih Gajah Mada di Kecamatan Lemong.

Ragam Kesenian
Pesta Sakura
Pesta sakura merupakan pesta topeng yang diadakan tiga hari setelahHari Raya Idul Fitri, dimulai sejak jam 09.00 hingga berakhir pada sorehari. Keunikan dari pesta sakura ini dalam acara panjat pinang yangberhadiakan berbagai barang yang digantung dipuncak batang pinang, parapemanjatnya terdiri atas beberapa orang pria (kelompok), dan parapemanjat tersebut memakai topeng serta dengan berbagai busana yangunik, bahkan para ada ada diantaranya ang memakai pakaian wanita. Pestaini dilaksanakan

Tari-tarian
Sesuai dengan kondisi alam yang terdiri dari daerah perhutanan danlautan, Kabupaten Lampung Barat memiliki aneka ragam tarian dengan temayang banyak terinspirasi dari lingkungan. Keberdaan margasatwa banyakmengilhami gerakan tari-tarian di daerah Lampung Barat. Di daerah BalikBukit terdapat Tari Kenui dan Tari Batin,dua jenis tarian yanggerakannya meniru burung elang. Tari batin biasanya dilakukan dalamrangka menyambut tamu-tamu penting.
Event ini dilaksanakan rutin menyambut HUT Kabupaten Lampung Barat.

Event Tahunan 
Festival Teluk Stabas
ini diadakan perlombaan Kesenian dan Budaya tradisional antara lain: hadra, bedikhir, hahiwang, gambus dan Lomba tarian adat tradisional lainnya. Festival ini dijadwalkan berlangsung pada setiap bulan Juli.

Semarak Wisata Tanjung Setia
Pada kegiatan ini dilaksanakan berbagai perlombaan yang bernuansa bahari seperti selancar, kebut jukung, voli pantai, sepakbola pantai. Selain itu ditampilkan beberapa atraksi kesenian. Festival ini dijadwalkan berlangsung pada setiap bulan Juni  

Gebyar Pesona Lumbok Ranau
Pada kegiatan ini dilaksanakan berbagai perlombaan yang bernuansa wisata tirta seperti kebut jukung, triatlon tradisional, memanah ikan, memancing didanau. Selain itu ditampilkan beberapa atraksi kesenian. Festival ini dijadwalkan berlangsung pada setiap bulan September

Sumber : www.Lampung barat.go.id

Selasa, 02 Agustus 2011

Tentang Ibu

tambat flora
BILA IBU BOLEH MEMILIH

Anakku...
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar
karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu...
Karena ketika mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan
kebesaran Allah

Sembilan bulan nak...
Engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak
karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak
nyaman, karena ibu
kecewa dan berurai air mata

Anakku...
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi
caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu Maka ibu
memilih berjuang melahirkanmu Karena menunggu dari jam
ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu
pintu surga Karena kedahsyatan
perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia
sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita
berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa
sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah...
saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan
penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di
telinga mungilmu

Anakku...
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah,
atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu
dengan
tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat
berharga
Merasakan kehangatan bibir dan
badanmu didada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang
orang lain tidak bisa rasakan

Anakku...
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang
rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu

Tetapi anakku...
Hidup memang pilihan...
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak...
Maafkan ibu...
Maafkan ibu...
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle
kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan
kita yang hilang

Percayalah nak...
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak...
Engkau selalu menjadi belahan nyawa ibu...


Cinta ini milikmu Ibu

"Rosa, bangun.. Sarapanmu udah mama siapin di meja."
Tradisi ini sudah berlangsung 26 tahun, sejak pertama kali aku bisa
mengingat tapi kebiasaan mama tak pernah berubah. "Mama sayang. ga usah
repot-repot ma, aku sudah dewasa." pintaku pada mama pada suatu pagi. Wajah
tua itu langsung berubah.

Pun ketika mama mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru
kukeluarkan uang dan kubayar semuanya, ingin kubalas jasa mama selama
ini dengan hasil keringatku.. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.

Kenapa mama mudah sekali sedih? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin
sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami mama karena dari
sebuah artikel yang kubaca.. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan
cenderung untuk bersikap kanak-kanak. tapi entahlah.. Niatku ingin
membahagiakan malah membuat mama sedih. Seperti biasa, mama tidak akan
pernah mengatakan apa-apa.

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya "Ma, maafin aku kalau telah
menyakiti perasaan mama. Apa yang bikin mama sedih?" Kutatap
sudut-sudut mata mama, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata mama berkata,
"Tiba-tiba mama merasa kalian tidak lagi membutuhkan mama. Kamu sudah
dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Mama tidak boleh lagi menyiapkan
sarapan untuk kamu, mama tidak bisa lagi jajanin kamu. Semua sudah bisa
kamu lakukan sendiri"

Ah, Ya Tuhan, ternyata buat seorang Ibu.. bersusah payah melayani
putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah
kusadari sebelumnya.. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua
menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti
kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.

Diam-diam aku merenungkan. Apa yang telah kupersembahkan untuk mama
dalam usiaku sekarang? Adakah mama bahagia dan bangga pada putrinya?

Ketika itu kutanya pada mama. Mama menjawab "Banyak sekali nak
kebahagiaan yang telah kamu berikan pada mama. Kamu tumbuh sehat dan lucu ketika
bayi adalah kebahagiaan. Kamu berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat
mama.
Setelah dewasa, kamu berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba,
itu kebahagiaan buat mama. Setiap kali binar mata kamu mengisyaratkan
kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua."

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap "Ampunkan aku ya Tuhan kalau selama
ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada mama. Masih banyak
alasan ketika mama menginginkan sesuatu." Betapa sabarnya mamaku melalui
liku-liku kehidupan..

Mamaku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik
anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan
kepada siapapun. Ah, maafin kami mama..... 18 jam sehari sebagai "pekerja"
seakan tak pernah membuat mama lelah.. Sanggupkah aku ya Tuhan?

"Rosa, bangun nak.. sarapannya udah mama siapin di meja.. "
Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul mama
sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya
lekat-lekat dan kuucapkan.. "Terimakasih mama, aku beruntung sekali
memiliki mama yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan mama." Kulihat binar itu
memancarkan kebahagiaan..

Cintaku ini milikmu, Mama. Aku masih sangat membutuhkanmu..
Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..

Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat
"Aku sayang padamu." Namun begitu, Tuhan menyuruh kita untuk menyampaikan
rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai..

Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita, Ibu..
Walau mereka tak pernah meminta. Percayalah.. kata-kata itu akan membuat
mereka sangat berarti dan bahagia..

"Ya Tuhan, cintailah mamaku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan
mama.
Dan jika saatnya nanti mama Kau panggil, terimalah dan jagalah ia disisiMu..
Titip mamaku ya Tuhan.."

Untuk dan oleh semua Ibu yang mencintai anak-anaknya dan semua anak yang
mencintai Ibunya..



CINTA KASIH SEORANG IBU

``Bisa saya melihat bayi saya?`` pinta seorang ibu yang baru
melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke
tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki
yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya
segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu
dilahirkan tanpa kedua belah telinga!

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh
menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya
saja yang tampak aneh dan buruk.

Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan
wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak
lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu
terisak-isak berkata, ``Seorang anak laki-laki besar mengejekku.
Katanya, aku ini makhluk
aneh.`` Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan
cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga
mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali
menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, ``Bukankah nantinya kau
akan bergaul dengan remaja-remaja lain?`` Namun dalam hati ibu merasa
kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang
bisa mencangkokkan telinga untuknya. ``Saya percaya saya bisa
memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang
yang bersedia mendonorkan telinganya,`` kata dokter. Kemudian,
orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan
telinga dan mendonorkannya pada mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil
anak lelakinya, ``Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah
bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu
ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah
rahasia,`` kata sang
ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah.
Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun
menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.

Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang
diplomat. Ia menemui ayahnya, ``Yah, aku harus mengetahui siapa yang
telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat
sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas
kebaikannya.`` Ayahnya menjawab, ``Ayah
yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah
memberikan telinga itu.`` Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan,
``Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui
semua rahasia ini.``

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan
rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi
keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi
peti jenazah ibunya yang baru
saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut
jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga
tampaklah.... bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. ``Ibumu pernah
berkata bahwa ia
senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,`` bisik sang ayah. 'Dan
tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit
kecantikannya bukan?'

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di
dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa
terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati
tidak terletak
pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang
telah dikerjakan namun tidak diketahui.


Fitrah Seorang Ibu

Sedari kecil aku "dipaksa" hidup mandiri. Sebagai anak
sulung dengan tiga orang adik yang masih kecil-kecil,
aku dituntut untuk hidup lebih dewasa dari umurku yang
sebenarnya. Tak ada kakak sebagai tempat untuk
bergantung atau sekedar berbagi cerita. Orang tuaku
pun terlalu sibuk bekerja untuk menutupi kebutuhan
ekonomi keluarga. Semua masalah yang aku hadapi, harus
bisa kuselesaikan sendiri.

Mungkin ada bagusnya dididik seperti itu. Aku menjadi
wanita yang ulet, tak pantang menyerah dan tidak mau
kalah oleh laki-laki. Selalu berprinsip, "Kalau
laki-laki bisa, kenapa wanita nggak?" Hingga aku
selalu berlomba-lomba menjadi ranking pertama di
sekolah. Ada rasa bangga rankingku berada di atas
laki-laki. Pun beberapa kali terpilih menjadi ketua
kelas, membuat aku bisa memerintah para laki-laki.

Semua itu aku lakukan untuk menunjukan kalau wanita
itu bukan makhluk yang lemah, yang mudah saja
disepelekan oleh laki-laki. Wanita pun mampu melakukan
apa yang laki-laki bisa lakukan. Tapi aku bukan gadis
tomboy. Hanya dalam bidang ilmu pengetahuan saja aku
berani bertarung dengan laki-laki. Keseharianku biasa
saja. Memakai rok, belajar menari, memasak, mengasuh
adik-adik. Tapi itu semua hanya sebatas kewajiban
membantu orang tua. Buktinya sampai sekarang aku tidak
hobi memasak dan tidak suka anak-anak. Kecuali anakku
sendiri tentunya.

Tetapi ternyata bagaimana pun dibuat semandiri dan
setegar mungkin, wanita tetaplah wanita. Wanita yang
dalam suatu masalah kadang membutuhkan bantuan orang
lain untuk mencurahkan segala gundahnya. Wanita butuh
sahabat yang akan selalu siap menyediakan telinga dan
hatinya.

Pernah aku mengalami suatu episode hidup yang hampa.
Rasanya tak ada kebahagiaan dalam hatiku. Semuanya
hampa. Tak ada yang bisa membuatku tersenyum. Semua
sahabatku pun sudah berkeluarga dan sibuk dengan
urusannya masing-masing. Sehingga tidak bisa datang
setiap aku membutuhkan kehadirannya.

Aku terjebak dalam rutinitas yang sangat membosankan.
Bangun sebelum subuh, mencuci, menyiapkan sarapan,
menyiapkan keperluan anak sekolah, pergi ke kantor,
pulang sore, kadang malam. Sepulang kerja menemani
anak-anak membuat PR, nonton TV, tidur. Begitu dan
begitu setiap hari. Jenuh dan sangat membosankan.

Hari-hariku, kuhabiskan dengan menghambur-hamburkan
uang. Memanjakan diri di salon kecantikan atau
berbelanja tak tentu tujuan. Awalnya kehampaanku
terobati. Tapi lama-kelamaan hal itu tidak dapat
mengobati kehampaan dalam diriku. Kebahagiaan itu
entah kemana, seolah hilang ditelan bumi. Hingga aku
teringat kata-kata sahabatku, "Kebahagiaan itu ada
pada keluargamu, pada anak-anakmu. Lihatlah mereka,
pandanglah mata anakmu, akan ada kebahagiaan di sana."

Hari Sabtu aku pun datang ke sekolah anakku. Beberapa
orang tua sedang asyik mengobrol sambil menunggu
anaknya. Aku hanya tersenyum sambil menganggukkan
kepala, karena tak satu pun yang aku kenali. Karena
aku tidak pernah mengantar anakku ke sekolah. Hanya
satu kali, ya satu kali hari pertama masuk sekolah,
hanya itu.

Aku memandang anakku dari balik jendela. Belajar
dengan ceria. Sekilas dia melihat ke jendela. Lalu dia
berteriak kegirangan. "Eh, liat ada mama saya, itu
liat di jendela ada mama saya." Terlihat dia begitu
girang melihat wajahku dari balik jendela. Dia hampiri
jendela dan mencoba meraba wajahku dari balik kaca
jendela. "Mamaaa......" Nampaknya dia tidak sabar lagi
menunggu bel berbunyi.

Setelah bel tanda pelajaran usai berbunyi, dia berlari
ke luar menghampiriku. Dia memeluk aku dengan
hangatnya. "Hei Randy, ini mama saya. Saeful, saeful,
ini mama saya." Betapa bangganya dia memperlihatkan
ibunya pada teman-temannya. Seketika rasa haru
menyeruak dari kalbuku. Seorang ibu yang egois, yang
hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri. Di mata
bening anakku, aku melihat sebongkah kebahagiaan itu.
Ada sesuatu yang tak dapat kubendung, mengalir hangat
di pipiku. Mungkin inilah fitrahku, fitrah seorang
ibu, fitrah seorang wanita. Disinilah sumber kebahagiaanku.


HADIAH CINTA SEORANG IBU

``Bisa saya melihat bayi saya?`` pinta seorang ibu
yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika
gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka
selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil
itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang
menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar
jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua
belah telinga!

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini
telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan
sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh
dan buruk.

Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah
dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang
menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan
kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak
berkata, ``Seorang anak laki-laki besar mengejekku.
Katanya, aku ini makhluk
aneh.`` Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan
dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman
sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang
musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua
kelas. Ibunya mengingatkan, ``Bukankah nantinya kau
akan bergaul dengan remaja-remaja lain?`` Namun dalam
hati ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang
dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya.
``Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga
untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia
mendonorkan telinganya,`` kata dokter. Kemudian,
orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau
mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya
mereka memanggil anak lelakinya, ``Nak, seseorang yang
tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan
telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke
rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini
sangatlah rahasia,`` kata sang
ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru
pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah
menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan
dari sekolahnya.

Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja
sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, ``Yah,
aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia
mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat
sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum
membalas kebaikannya.`` Ayahnya menjawab, ``Ayah
yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang
yang telah memberikan telinga itu.`` Setelah terdiam
sesaat ayahnya melanjutkan, ``Sesuai dengan
perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui
semua rahasia ini.``

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap
menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang
menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan
anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya
yang baru
saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah
membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu,
lalu menyibaknya sehingga tampaklah.... bahwa sang ibu
tidak memiliki telinga. ``Ibumu pernah berkata bahwa
ia
senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,`` bisik
sang ayah. 'Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia
telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?'

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan
tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki
tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada
apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak
terletak
pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun
pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.


Ibu Bagi Ayahnya

Eramuslim - Ia adalah bungsu dari empat perempuan bersaudara. Namun, namanya tercatat harum dalam sejarah mengalahkan tiga nama kakaknya. Dilahirkan sekitar lima tahun sebelum ayahnya menerima wahyu pertama.
Kelahirannya dirancang Allah untuk mengambil setting dan momentum besar dan bersejarah yang mengaruniai julukan untuk ayahnya dengan "Al-Amin". Peristiwa peletakan hajar aswad setelah Ka'bah dibangun kembali oleh kaumnya.
Ketiga saudaranya pun pelahan meninggalkan rumah karena telah dipersunting oleh para sepupunya yang kaya dan memiliki kedudukan terhormat di hadapan para pembesar Quraisy. Meski kemudian bercerai karena kakak-kakaknya sangat mencintai kemurnian akidah dan berpisah dengan kematian suaminya.
Ia tumbuh dalam kasih sayang Ibunya yang sangat dewasa, lembut dan penuh pengertian. Ia tumbuh bersama cinta dan kesahajaan.
Ia tumbuh bersama perjuangan ayahnya. Ia melihat langsung bagaimana ayahnya yang dipercaya kaumnya ternyata disakiti dan dianiaya. Dengan mata kepalanya ia menyaksikan saat ayahnya ditarik-tarik rida'nya saat beribadah di depan Ka'bah. Ayahnya yang sabar dengan perjuangan kebenaran ini. Hingga tangan Abu Bakar terulur menyapanya dan mengusir kezhaliman itu. "Apakah kalian menyakiti laki-laki ini hanya karena ia menyembah Allah?" Abu Bakar membela ayahnya. Kelak laki-laki ini menjadi sahabat dekat ayahnya. Bahkan sahabat terdekat yang disayangi dan dicintai ayahnya.
Dua nuansa pembinaan membuatnya menjadi perempuan yang bukan sembarang perempuan. Nuansa pembinaan yang sarat dengan cinta dan kelembutan, kesahajaan serta selalu penuh dengan perjuangan.
Bahkan saat ibunya meninggal dunia, pada tahun ke sepuluh dari kenabian. Dengan serta merta ia pun menjadi dewasa di usia mudanya. Saat ayahnya kehilangan istri juga paman hanya dalam satu bulan berselang. Ia pun menjelma sebagai "ibu" bagi ayahnya. Ia mendukung penuh perjuangan ayahnya. Dalam tiga tahun ia mewakili peran ibunya meski tentu tak semua peran dapat diwakilinya. Hingga saat berhijrah dan ayahnya pun mendapatkan pengganti ibunya. Perempuan muda yang cerdas yang menjadi pendamping ayahnya, anak dari sahabat terdekat ayahnya, Aisyah. Perempuan itu terpaut sekitar 8 atau 9 tahun lebih muda darinya.
Sungguh sejarah pun mencatat masing-masing mereka. Dua perempuan muda ini adalah perempuan terdekat Rasulullah Saw. setelah seorang perempuan yang sangat dewasa yang sangat berarti bagi perjuangan dan hidup beliau.
Kembali ke perempuan yang sedang kita bicarakan. Ia adalah Fathimah Az-Zahra.
Ketika penganiayaan terhadap ayahnya juga kaum muslimin semakin meningkat terutama dalam tiga tahun setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Saat perintah berhijrah turun sebagai jalan menuju kemenangan. Ia turut membantu persiapan ayahnya. Dan ia pun tetap tinggal bersama kakaknya, Ummu Kulsum.
Hingga datanglah utusan Rasul Saw yang menjemput ia dan kakaknya, menyusul ayah mereka di Madinah. Perjalanannya ke Madinah tidaklah aman dan berjalan mulus. Ia menjumpai halangan dan rintangan yang cukup berat. Sebagaimana kaum Quraisy memburu, ia pun tak lepas dari bidikan kekejian ini.
Al-Huwairits bin Naqidz, seorang bejat mengejar mereka. Dia adalah diantara orang yang menyakiti ayahnya ketika di Makkah. Al-Huwairits mendapatkannya di perjalanan ke Madinah bersama kakaknya. Ia dan kakaknya terjerembab dari atas tunggangan. Jatuh di atas padang pasir yang garang dan panas. Ia dihinakan dan disakiti oleh kebejatan al-Huwairits yang tertawa-tawa mengejek bersama kaumnya. Hingga setelah puas ia pun meninggalkan dua bersaudara itu.
Sungguh ketika ia sampai ke Madinah bersama kakaknya dalam kondisi yang menyedihkan. Tubuh yang lemah dan terlihat bekas penganiayaan. Saat itu, tiada seorang pun penduduk Madinah yang tidak melaknat perbuatan al-Huwairits. Maka sangat pantas ia mendapat balasan setimpal atas kejahatannya menyakiti perempuan mulia ini. Kelak pada tahun ke delapan hijriyah, al-Huwairits menjadi salah satu diantara nama-nama yang hendak dipenggal dimana pun ia berada dan bersembunyi. Dan tugas itu dilakukan oleh suaminya, Ali bin Abi Thalib.
Saat rumah tangga Rasul Saw kedatangan perempuan baru yang menggantikan perannya, ia pun tetap setia mendampingi ayahnya. Ia bahkan tidak sekali pun membayangkan seperti ketiga kakaknya; mendapatkan pasangan hidup yang kaya dan terpandang. Entah itu kakak sulungnya, Zainab. Atau Ruqayyah dan Ummu Kulsum yang dipersunting saudagar kaya dan terpandang sekelas Usman bin Affan.
Ia qanaah dengan kesahajaan yang dibina ibu kandungnya, perempuan agung yang dikenal sejarah kemanusiaan, Khadijah.
Namun, tak dinafikan perempuan muda yang shalihah ini mendambakan seseorang. Seorang laki-laki yang dengannya ia berharap ridha Allah. Yang dengannya ia bisa berbuat lebih banyak sebagaimana ia melayani ayahnya. Ya laki-laki itu tak jauh darinya.
Ia adalah anak paman ayahnya, Ali bin Abi Thalib. Hanya saja ia tak berani mengatakannya. Bagaimana pun keluarga Ali berjasa bagi ayahnya. Mereka yang mengasuh ayahnya sepeninggal neneknya. Di rumah Ali, ayahnya tumbuh dan dilindungi serta disayangi. Meski, Abu Thalib, ayah Ali tidaklah berada dalam barisan dakwah ayahnya, Muhammad saw. Disamping itu Ali adalah laki-laki kecil pertama yang beriman pada ayahnya. Ali adalah laki-laki yang cerdas yang dijuluki ayahnya dengan "pintu ilmu". Ia mengangankan tapi tak berani mengatakan. Ia mengetahui posisi Ali yang agung.
Ali pun merasa demikian. Fatimah adalah anak dari gurunya. Anak seorang pemimpin dan nabi umat ini. Apakah dirinya laik mendampingi perempuan mulia ini? Apalagi setelah dua sahabat agung, Abu Bakar dan Umar mundur dengan pinangannya. Rasul Saw, belum berkenan dengan beliau berdua. Ada lelaki lain yang ditunggu putrinya.
Sahabat-sahabat Ali pun memompa kepercayaan Ali. Hingga ia berani menghadap Rasulullah saw, meski dengan lidah yang sangat kelu untuk menyebutkan hasrat sesungguhnya dan maksud kedatangannya waktu itu.
Rasulullah Saw. menangkap hal lain dengan kedatangan pemuda yang santun ini. Ada hal yang sangat penting yang akan disampaikannya sehingga pemuda ini tak sanggup mengatakannya. Maka Rasul pun mendekatinya dan menanyakan dengan pelan dan kasih sayang, "Gerangan apa maksud kedatangan putra Abu Thalib?"
Dengan mata terpejam dan suara yang lemah, pemuda itu pun menyahut, "Aku mengingat Fatimah, putri Rasulullah".
Rasul pun tersenyum seraya mengabarkan berita gembira yang membuat hati pemuda itu berbunga-bunga, "Ahlan wa marhaban (selamat datang)" dalam riwayat lain disebutkan "Dia untukmu, Ali!"
Dan perempuan mulia itu pun akhirnya bersanding dengan pemuda agung ini. Pemuda agung yang juga sarat dengan kesahajaan. Ia pun sempat kebingungan, dengan apa ia akan menikah. Ia segera teringat akan baju besinya. Ustman bin Affan membelinya seharga 470 dirham. Sebagian diserahkan Rasul, sebagian diserahkan Bilal untuk membeli wewangian sisanya diberikan Ummu Salamah untuk membeli peralatan pengantin dan segala kebutuhannya.
Fatimah muda segera berpindah rumah dari keluarga ayahnya menuju rumah tangga yang dibangunnya bersama Ali. Ali tidaklah sekaya Ustman atau Abdurrahman. Maka, penempaan kesederhanaan ibunya lah yang menjadikannya tetap sebagai perempuan tangguh, tabah dan bersahaja serta mencintai fakir miskin.
Dia yang putri seorang pemimpin dan nabi umat ini tidak dengan manja menikmati fasilitas. Justru sarat dengan kesederhanaan. Hidupnya penuh pengorbanan dan perjuangan. Kedua tangannya pun kasar sebagai tanda bahwa ia tabah dengan hidupnya. Tak ada pembantu di rumahnya.
Dan nasab, kata ayahnya, tak sanggup menyelamatkan seseorang dari murka Allah. Maka ayahnya memerintahkan padanya untuk banyak beramal baik. Dan jika ia menyeleweng maka murka ayahnya akan didapatinya lebih dari yang lainnya. Jika Fatimah mencuri maka tangannya pun tak dapat disembunyikan dari kemurkaan ayahnya.
Sungguh perempuan mulia ini patut dan laik dimuliakan sejarah. Dari rahimnya yang suci tersambung keturunan Rasulullah. Dari kesabaran dan kesetiaannya bersama Ali, ia memperoleh kebahagiaan dan menuai cinta yang sangat manis. Cinta yang bermuara pada kerelaan Allah dan Rasul-Nya. Maka sangat wajar bila ayahnya sangat dalam mencintainya, "Fatimah adalah bagian diriku, dan diriku bagian darinya". Siapa yang menyakitinya sama dengan menyakiti ayahnya. Putri bungsu pemimpin umat ini sangat menyayangi dan mencintai ayahnya.
Ia juga sangat pemaaf, dengan segala kebesaran hatinya ia memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan suaminya dalam kasus putri musuh Allah, putri Amru bin Hisyam, yang hendak dinikahi suaminya. Bagaimana mungkin suaminya menyatukan dalam satu rumah dua perempuan, putri Rasulullah dan putri musuhnya.
Ia juga yang dengan tekun berguru pada suaminya yang "pintu ilmu" itu.
Ia juga yang dengan lembut menyemaikan cinta di hati dua buah hatinya, Hasan dan Husain, dua cucu kesayangan ayahnya.
Ia juga yang mendukung perjuangan suaminya serta menopang semangat suaminya berjuang bersama ayahnya menegakkan kalimat Allah dan membela agama-Nya, menghadai musuh-musuh ayahnya yang pernah menyakiti keluarganya juga kaum muslimin.
Ia juga yang dengan rajin dan tekun mendekatkan diri dengan Tuhannya memohon dukungan perjuangan ayah dan suaminya.
Hingga datang saat perpisahan dengan kekasihnya, ayahnya yang sangat dicintainya. Sang ayah yang sangat dekat dengannya kembali ke pangkuan Allah. Ia pun bersedih dan tak lama berselang enam bulan berikutnya ia pun menyusul kekasihnya, ayahnya. Menghadap Tuhannya dengan segala pengorbanan dan cinta terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Kaum muslimin kembali dilanda kedukaan yang dalam setelah menguburkan jasad putri terakhir Rasulullah saw. Ali pun sangat merasa kehilangan. Ia menangis saat menguburnya di senja hari. Ia kuatkan hati, namun air matanya tak sanggup menyembunyikan kesedihan dari perpisahan ini. Ia melambaikan perpisahan terakhir kemudian kembali ke rumahnya yang sangat terasa sepi sepeninggal Az-Zahra ini.
Ali segera kembali menemui kedua buah hatinya, peninggalan berharga perempuan mulia yang pernah dikenalnya. Berbahagialah Ali yang menjadi pendamping perempuan agung ini sekaligus meraih kehormatan menjadi penerus keturunan Rasulullah Saw. Dan ia harus merelakannya menemui kekasihnya. Perempuan yang pernah menjelma menjadi ibu bagi ayahnya.


Ibu Kenapa Kau Menangis

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya
kepada ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya
menjawab, "Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak".
"Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya
tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak
akan pernah mengerti...."

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah,
mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa
ada sebab yang jelas?"Sang ayah menjawab, "Semua
wanita memang menangis tanpa ada alasan". Hanya itu
jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan
tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada
Tuhan."Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali
menangis?"Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,"Saat
Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat
utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh
beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus
cukup nyaman danlembut untuk menahan kepala bayi yang
sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan,
danmengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali
pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari
anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap
bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah
putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat
keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah,
tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang,
untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun,
dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang
anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya.
Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada
bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan
inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap
dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya,
melalui masa-masa sulit, dan enjadi pelindung baginya.
Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap
hati dan
jantung agar tak terkoyak?Kuberikan kepadanya
kebijaksanaan, dan kemampuan untuk
memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami
yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya.
Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji
setiap kesetiaan yang
diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar,
saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat
mencurahkanperasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan
kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia
inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita,
walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata
kehidupan".

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau
masih hidup.


Ibu... pernahkah kau berkesah..?

Pernah suatu sore, ibu pulang dengan tapak kaki berdarah. "Tertusuk kerikil," terangnya. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan semenjak pagi, wanita yang kasihnya tak terbilang nilai itu mengakhirinya dengan sedikit ringisan, "Tidak apa, cuma luka kecil kok," tenang ibu.

Padahal, baru dua hari lalu beberapa orang warga yang tak satu pun saya mengenalnya membopong ibu dalam keadaan pingsan. Ternyata ibu kelelahan hingga tak kuat lagi berjalan. Bermil-mil ia mengetuk pintu ke pintu rumah orang yang tak dikenalnya untuk menawarkan jasa mengajar baca tulis Al-Qur'an bagi penghuni rumah. Tak jarang suara hampa yang ia dapatkan dari dalam rumah, sesekali penolakan, dan tak terbilang kata, "Maaf, kami belum butuh guru mengaji." Tapi ibu tetap tersenyum.

Sejak perceraiannya dengan ayah, ibu yang menanggung semua nafkah lima anaknya. Pagi ia berjualan nasi dan ketupat bermodalkan sedikit keterampilan memasak yang ia peroleh selagi muda dulu. Menjelang siang ia memulai menyusuri jalan yang hingga kini takkan pernah bisa kuukur, menawarkan jasa dan keahliannya mengajar baca tulis Al-Qur'an. Selepas isya' kami ke lima anaknya menunggu setia kepulangan ibu di pinggir jalan.

Sempat saya bertanya dalam hati, lelahkah ia?

Biasanya kami berebut untuk menjadi tukang pijat ibu, saya di kepala, abang di kaki, sementara kedua tangan ibu dikeroyok adik-adik. Kecuali si cantik bungsu, usianya kurang dari empat tahun kala itu. Bukannya ibu yang tertidur pulas, justru kami yang terlelap satu persatu terbuai indahnya nasihat lewat tutur cerita ibu.

Tengah malam saya terbangun, melihat ibu masih duduk bersimpuh di sajadahnya. Ia menangis sambil menyebut nama kami satu persatu agar Allah membimbing dan menjaga kami hingga menjadi orang yang senantiasa membuat ibu tersenyum bangga pernah melahirkannya. Saya ternganga sekejap untuk kemudian terlelap kembali hingga menjelang subuh ia membangunkan kami.

Selepas subuh, wanita yang ketulusannya hanya mampu dibalas oleh Allah itu meneruskan pekerjaanya menyiapkan dagangan. Sementara kami membantu ala kadarnya. Tak pernah saya melihat ia mengeluh meski teramat sudah peluhnya.

Satu tanyaku kala itu, kapan ia terlelap?

Pagi hari di sela kesibukannya melayani pembeli, ia juga harus menyiapkan pakaian anak-anak untuk ke sekolah. Sabar ia meladeni teriakan silih berganti dari kami yang minta pelayanannya. Wanita yang namanya diagungkan Rasulullah itu, tak pernah marah atau kesal. Sebaliknya dengan segenap cinta yang dimilikinya ia berujar, "Abang sudah besar, bantu ibu ya."

Ingin sekali kutanyakan, pernahkah ia berkesah?


" IBU... "

Suatu saat ibu saya mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena
dia membutuhkan sebuah gaun yang baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi
berbelanja bersama dengan orang lain, dan saya bukanlah orang yang sabar,
tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut.
Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya
mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hari yang
berlalu, saya mulai lelah dan ibu saya mulai frustasi. Akhirnya pada toko
terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba satu stel gaun biru yang
cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di
bagian tepi lehernya, dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini
saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya dalam ruang ganti pakaian,
saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan dengan susah
mencoba untuk mengikat talinya. Ternyata, tangan-tangannya sudah mulai
dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu dia tidak dapat
melakukannya, seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa
kasihan yang dalamkepadanya. Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan
air mata yang keluar tanpa saya sadari. Setelah saya mendapatkan ketenangan
lagi, saya kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun
tersebut. Pakaian ini begitu indah,dan dia membelinya. Perjalanan belanja
kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat
terlupakan dari ingatan saya.

Sepanjang sisa hari itu, pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada
di dalam ruang ganti pakaian tersebut dan terbayang tangan ibu saya yang
sedang berusaha mengikat tali blusnya. Kedua tangan yang penuh dengan
kasih, yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju,
membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya,
sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling
membekas dalam hati saya. Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar
ibu saya, mengambil tangannya, menciumnya ... dan yang membuatnya
terkejut,memberitahukannya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah
tangan yang paling indah di dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan
telah membuat saya dapat melihat dengan mata baru, betapa bernilai dan
berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya
hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan hati saya akan
memiliki keindahannya tersendiri.

Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung,
tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ibu...

With Love to All Mother .

Note: Berbahagialah yang masih memiliki Ibu. Dan lakukanlah yang terbaik untuknya...........
" Lakukanlah yang Terindah dan Terbaik yang Anda dapat persembahkan Untuknya "


KAPAN TERAKHIR KITA MENCIUM IBU?

Saya berharap Ibu kita masih ada.
Betapa menyesalnya, bila telah tiada.
Ketika kita lahir menangis,
Ibu ketawa, semua orang tertawa gembira

Ibu yang pertama kali dan setiap saat mencium kita,
dulu.
Kini Ia akan terus melakukannya,
sayang kita merasa tidak perlu.

Tanpa pamrih ia lakukan.
Dengan kasih sayang penuh Ia berikan.
Ketika kita ingusan, Ia rela menghirup
Ingus kita dengan mulut manisnya.

Ketika kita sakit, ia ikut sakit.
Ketika kita tidak bisa tidur, ia ikut ikut lembur.
Ketika kita tak mau makan,
ia korbankan apa saja agar kita makan.

Apa yang bisa kita lakukan saat ini? begitu ketemu, cium Ibu.
Bila jauh, angkat telepon, minta ampun
Saya bayangkan Ibu akan meneteskan air mata.
Air mata ketulusan kasih sayang seorang Ibu
Bila kita mati buatlah sebaliknya.
kita ketawa gembira, setidak-tidaknya tersenyum.
Sementara Ibu dan seluruh kerabat kita yang ditinggal menangis sedih
Sungguh kita tidak tahu, bagaimana keadaan kita nanti ketika mati.
Apakah bisa tertawa,
atau malah Ditertawakan !

Semoga bermanfaat


KASIH SAYANG IBU

Umur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu.
Balasannya, kau nangis terus sepanjang malam.

Umur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.
Balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.

Umur 3 tahun, memasakkan semua makananmu dengan kasih
sayang. Balasannya, kau buang piring berisi makanan ke
lantai.

Umur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna.
Balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja
makan.

Umur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang
mahal dan indah. Balasannya, kau memakainya untuk
bermain di kubangan lumpur dekat rumah.

Umur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah.
Balasannya, kau berteriak, "NGGAK MAU!!"

Umur 7 tahun, dia membelikanmu bola. Balasannya, kau
lemparkan bola ke jendela tetangga.

Umur 8 tahun, dia memberimu es krim.
Balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh
bajumu.

Umur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus pianomu.
Balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak
pernah berlatih.

Umur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari
kolam renang hingga pesta ulang tahun. Balasannya, kau
melompat keluar mobil tanpa memberi salam.

Umur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke
bioskop. Balasannya, kau minta dia duduk di baris lain

Umur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV
khusus orang dewasa. Balasannya, kau tunggu dia sampai
dia keluar rumah.

Umur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong
rambut, karena sudah waktunya. Balasannya, kau katakan
dia tidak tahu mode.

Umur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu
selama sebulan liburan. Balasannya, kau tak pernah
meneleponnya.

Umur 15 tahun, pulang kerja ingin memelukmu.
Balasannya, kau kunci pintu kamarmu.

Umur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan
tanpa peduli kepentingannya.

Umur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang
penting. Balasannya, kau pakai telepon nonstop
semalaman.

Umur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus
SMA. Balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga
pagi.

Umur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan
mengantarmu ke kampus pada hari pertama. Balasannya,
kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau
tidak malu di depan teman-temanmu.

Umur 20 tahun, dia bertanya, "Dari mana saja seharian
ini?" Balasannya, kau jawab, "Ah Mama cerewet amat
sih, mau tahu aja urusan orang!"

Umur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang
bagus untuk karirmu di masa depan. Balasannya, kau
katakan, "Aku tidak mau seperti Mama."

Umur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau
lulus
perguruan tinggi. Balasannya, kau tanya dia kapan kau
bisa ke Bali.

Umur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furnitur untuk
rumah barumu. Sebagai balasannya, kau ceritakan pada
temanmu betapa jeleknya furnitur itu.

Umur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan
bertanya tentang rencananya di masa depan.
Balasannya, kau mengeluh, "Aduh, bagaimana Mama ini,
kok bertanya seperti itu?"

Umur 25 tahun, dia mambantumu membiayai penikahanmu
Balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya
lebih dari 500 km.

Umur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat
bagaimana merawat bayimu. Balasannya, kau katakan
padanya, "Ma, sekarang jamannya sudah berbeda!"

Umur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan
pesta ulang tahun salah seorang kerabat. Balasannya,
kau jawab, "Ma, saya sibuk sekali, nggak ada waktu".

Umur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan
perawatanmu. Sebagai balasannya, kau baca tentang
pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di
rumah anak-anaknya.

Dan....hingga suatu hari, dia meninggal dengan
tenang....

Tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau
lakukan. Tiba-tiba kau mulai menyesal dan merasa
bersalah....semua kenangan itu menghujam
hati...mengantam seperti palu godam....

Jadi, jika beliau masih ada...jangan lupa berikan
kasih sayangmu kepadanya lebih dari yang kau berikan
selama ini.

Dan jika beliau sudah tiada....ingatlah kasih sayang
dan cinta yang telah diberikan kepadamu....begitu
tulus...tak pernah menuntut balas...dan tanpa syarat
apapun.


Memperhitungkan Nilai 'Kasih'  Ibu
  
 Pada suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di
 dapur yang sedang
 menyiapkan makan malam, dan ia menyerahkan selembar
 kertas yang selesai
 ditulisinya.
  
 Setelah ibunya mengeringkan tangannya dengan
 celemek, ia membacanya dan
 inilah tulisan si anak:
  
 = Untuk memotong rumput minggu ini Rp. 7.500,00
 = Untuk membersihkan kamar minggu ini Rp. 5.000,00
 = Untuk pergi ke toko menggantikan mama Rp.
 10.000,00
 = Untuk menjaga adik waktu mama belanja Rp.
 15.000,00
 = Untuk membuang sampah setiap hari Rp. 5.000,00
 = Untuk raport yang bagus Rp. 25.000,00
 = Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp.
 12.500,00
 ---------------------------------
 Jumlah hutang Rp. 80.000,00
  
 Si ibu memandang anaknya yang berdiri di situ dengan
 penuh harap, dan
 berbagai kenangan terlintas dalam pikiran ibu itu.
  
 Kemudian ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya,
 dan menulis:
  
 . Untuk sembilan bulan ketika mama mengandung kamu
 selama kamu tumbuh
 dalam perut mama, GRATIS.
 . Untuk semua malam ketika mama menemani kamu,
 mengobati kamu, dan
 mendoakan kamu, GRATIS.
 . Untuk semua saat susah, dan semua air mata yang
 kamu sebabkan selama
 ini, GRATIS.
 . Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan
 untuk rasa cemas di waktu
 yang akan datang, GRATIS.
 . Untuk mainan, makanan, baju, dan juga menyeka
 hidungmu, GRATIS. Anakku.
  
 Dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, harga cinta
 sejati mama adalah GRATIS.
  
 Setelah selesai membaca apa yang ditulis ibunya, ia
 menatap wajah ibunya
 dan berkata: 'Ma, aku sayang sekali pada Mama'.
  
 Dan kemudian ia mengambil pulpen dan menulis dengan
 huruf besar-besar: "LUNAS"
  
 Apakah menurutmu ini cerita yang indah? Jika ya,
 biarkan semua orang yang
 kamu tahu alamat e-mailnya membaca juga cerita ini
 dan mereka dapat lebih
 menghargai orang-orang yang telah berjasa pada
 mereka.


Telinga dan Tangan Ibu

eramuslim - Berada bersama ibu begitu menenangkan. Sebab rasanya ibu tak pernah lelah menjadi 'telinga terbaik' bagi setiap cerita yang mengalir deras dari mulut saya, setiap kali sampai di rumah, selesai beraktifitas seharian. Ibu tak perlu bertanya apapun, saya akan duduk manis berlama-lama di kamarnya, menumpahkan segala yang telah memenuhsesakkan dada ini. Saya tak pernah berpikir sebelumnya, bahwa celoteh saya saat itu bisa jadi akan menambah lelah dan memberatkan beban yang sudah menggelantung di pundak ibu. Tapi senyumnya tetap melipur hati, seolah letih itu tak ada.
Hari itu, saya begitu tergesa sampai di sekolah, hampir saja terlambat. Pagi-pagi sekali, tidak seperti biasanya, saya telah ikut sibuk membereskan banyak sekali barang. Sekitar pukul tujuh, saya dan ibu telah berada di sebuah lobby hotel terkenal di Jakarta. Hari itu, untuk yang pertama kalinya, saya berhadapan dengan sekian banyak turis yang berseliweran dengan wajah-wajah penuh antusias memandangi, melihat-lihat, dan bercakap-cakap dengan kami-para penjaja barang dagangan di stand bazaar. Kali itu, saat yang istimewa bagi ibu, hari pertama menjadi peserta bazaar yang dihadiri para turis maupun pekerja asing. Saya pun tak kalah semangatnya, sepanjang siang di sekolah tak henti-hentinya tersenyum-senyum sendiri, sampai teman sebangku saya-Rani namanya-rasanya sudah begitu bosan mendengar celotehan saya tentang pengalaman pagi itu. Menyaksikan dan terkikik geli mendengar ibu bercakap-cakap dengan para pembeli. Ngawur, tapi tetap saja ngotot. Padahal ibu tak bisa berbahasa Inggris.
Saya rasa Allah telah menganugerahkan ibu sepasang 'tangan ajaib'. Saya ingat, belasan tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD, rumah kami penuh dengan pernak-pernik. Saat itu, puluhan gulung pita berwarna-warni menumpuk di sudut kamar. Berjejeran pula berlembar-lembar karton tebal, busa, serta tumpukan kain. Saat itu, saya selalu senang memandangi dan bermain-main di 'pojok berantakan' milik ibu. Kedua tangannya telah menghasilkan barang-barang yang begitu menarik di mata saya. Saat itu, saya dengan gembira menyambut tawaran ibu untuk menjadi 'asistennya'. Dan saya pun asyik bergumul dengan plastik-plastik kecil, membukanya kemudian memasukkan pita rambut warna-warni hasil karya ibu, dan menjepitnya dengan stapler. Hanya itu. Ibu tak memperkenankan saya untuk menyentuh 'tempat foto' cantik buatannya, yang digantung berjejer di dinding mar. Belum lagi tumpukan souvenir pesta pernikahan, entah ada berapa ratus. Kegembiraan saya berada di antara benda-benda menarik itu seperti membuat saya lupa, bahwa saya sering menemukan ibu terkantuk-kantuk duduk di ‘meja operasi’nya sampai tengah malam, menyelesaikan pesanan.
Ibu telah menghabiskan entah berapa bagian waktu dalam hidupnya untuk menjadi 'ember' ternyaman bagi diri saya. Di sanalah saya menumpahkan segala macam hal yang sering membuat ibu tersenyum geli, tertawa, atau mungkin juga turut bersedih atas apa yang saya alami. Ajaibnya, kini saya tak lagi perlu memulai percakapan itu. Sepertinya ibu telah mengetahui segala isi hati saya, tanpa perlu saya ungkapkan. Begitukah seorang ibu? Saya sempat berpikir, tak usahlah lagi menceritakan segala hal padanya. Mungkin itu hanya akan menambah lelahnya. Saya memutuskan untuk berhenti berceloteh pada ibu, toh saya sudah dewasa, dan tak lagi pantas memberatkannya dengan hal-hal tak penting macam celotehan itu. Namun hari itu, ibu menelpon saya ke kantor dan menegur saya, "Ta, kapan kamu ke rumah? Kita kan udah lama nggak cerita-cerita..."
Ibu tak hanya pendengar setia bagi celoteh anaknya, namun ia juga telah memberi dan mengajarkan saya banyak hal melalui kedua 'tangan ajaib'nya. Ia mengajarkan saya untuk selalu berusaha menjadi pendengar yang baik bagi orang lain, melalui mimik wajah serta kalimat-kalimatnya menanggapi setiap perkataan yang saya ucapkan. Saya belajar, bahwa setiap perhatian kecil yang diberikan kepada seorang anak, maka yang tersimpan padanya adalah sebuah kasih sayang besar dan keyakinan bahwa ia disayangi. Saya belajar, bahwa kedua tangan anugerah Allah ini, adalah modal bagi kerja keras yang harus dilakukan demi orang-orang tercinta, keluarga. Entah apapun yang dapat diperbuat.
Saya tak heran, betapa banyak teman dan relasi bisnis yang ibu miliki sekarang. Banyak pula kerabat dekat yang betah berlama-lama mengobrol dengan ibu. Tak sedikit orang yang mengagumi 'bakat' yang mereka katakan terhadap keterampilan yang ibu miliki. Ibu menyebutnya hobi, tapi saya memahaminya sebagai cara ibu bersenang-senang dengan 'tuntutan' padanya untuk membantu ayah membiayai keluarga. Seringkali lelah membayang dalam raut wajah ibu, namun tak jarang saya mendapatinya berbinar kala 'tangan ajaib'nya telah berhasil 'menciptakan' karya baru.
Sekarang ini, adalah giliran saya untuk menjadi 'telinga terbaik' bagi ibu sampai hari tuanya nanti, dan mempersembahkan hasil yang dapat saya raih dari kedua belah tangan ini untuk membahagiakannya.